<!– @page { margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } –>

Sering kali tanaman Daun Dewa atau Sambung Nyawa ini dibiarkan tumbuh liar. Padahal, selain tampilannya yang cantik, sejak lama tanaman ini dikenal sebagai tanaman berkhasiat obat. Tanaman daun dewa diduga berasal dari Myanmar, masuk ke Indonesia dibawa oleh VOC. Sejak saat itulah nenek moyang kita telah memanfaatkan daun dewa untuk lalapan maupun sebagai ramuan penyembuh penyakit. Pada zaman penjajahan, misalnya, orang cina telah memanfaatkan daun dewa sebagai obat ginjal.

Dari namanya saja, tanaman ini sudah terkesan wah, sekaligus seram. Disebut daun dewa, mungkin karena tepi daunnya pun bergerigi mirip ornamen baju para dewa. Kalau pun ada yang menyebutnya tanaman sambung nyawa, erat kaitannya dengan manfaat tanaman ini sebagai obat berbagai penyakit, khususnya penyakit yang ‘dekat dengan nyawa’.

Daun Dewa atau Gynura Segetum termasuk tanaman semak. Berbatang tegak dengan tinggi sekitar 10-25 cm, lunak, berambut halus, warna ungu kehijauan, dan memiliki cabang yang keluar dari ketiak daun. Buahnya berbentuk lonjong warna cokelat. Permukaan daunnya dihiasi rambut halus serta warna daun bagian atas hijau tua dan ungu di bagian bawah daun. Daun tanaman ini agak lemas seperti daun tempuyung, berpangkal meruncing dan berujung agak simpul. Akarnya membentuk umbi sekitar 5-8 cm. Kulit umbi berwarna kekuningan mirip kentang, sedangkan dagingnya bening sampai keruh.

Penampilan daun dewa yang penuh warna, akan semakin cantik kalau di tanam di pot dan ditata berjejer di teras rumah, atau diletakkan di sekitar taman. Itulah daun dewa, indah sekaligus bermanfaat. Anda pun pasti bisa menanam nya. Siapkan media tanam berupa campuran tanah subur, pasir, dan humus atau pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:1. Sediakan pula pecahan batu bata atau pecahan genteng dan ijuk yang telah dicuci bersih. Tak ketinggalan siapkan insektisida (Furadan) dan pupuk NPK (15-20-20) sebanyak 15 gram per pot. Sediakan pula pot dari plastik, tanah liat, atau drum bekas.

Caranya : campurkan ketiga media tanam tadi dengan insektisida dan pupuk. Lalu aduk sampai rata, kemudian masukkan ke dalam pot yang dasarnya sudah diberi selapis pecahan batu bata dan ijuk. langkah berikut, buatkan lubang kecil pada media, lalu bibit daun dewa ditanam. Tutup dengan tanah tipis-tipis. Selesai bertanam lalu disiram sampai basah, dan diulangi setiap pagi atau sore hingga tanaman daun dewa tumbuh subur. Perawatan selanjjutnya, agar peredaran udara dan air dapat berjalan dengan baik, amak tanah di dalam pot harus di gemburkan. Berikan lagi pupuk NPK bila umur tanaman sudah 2 bulan dan 3 bulan.

Perbanyakan tanaman daun dewa dilakukan dengan tiga cara : stek batang, stek anakan, atau umbinya.
1. Stek Batang
Pilihlah batang tanaman daun dewa setinggi 10-12 cm, lalu dipotong dan pangkal stek dibuat kemiringan 45 derajat, bersihkan. Masukkan stek batang itu ke dalam polybag yang telah di isi media tanam dan kompos (2:1). jangan lupa, rajinlah menyiram. Satu bulan kemudian bibit sudah tumbuh, dan siap dipindahkan ke dalam pot.
2. Stek Anakan
Perbanyakan stek anakan diawali dengan penyediaan umbi. Ambil umbi daun dewa yang sehat, lalu disemaikan. Pada suatu ketika akan tumbuh anakan. Anakan itulah yang dipisahkan dengan pisau tajam. Lalu ditanam sebagaimana menanam stek batang.
3. Umbi
cara perbanyakan ini sengaja mengandalkan umbi. Jadi pilih betul umbi daun dewa yang segar, tidak terserang cendawan, dan memiliki prospek tunas cukup banyak. Sebaiknya umbi disemakkan dulu, lalu setelah tumbuh tunas, dipindahkan ke dalam pot, atau di tanam di seputar kebun halaman rumah.